Skip to main content

Pergi



Ingatanku tentang mu tak banyak, kawan.
Mungkin waktu telah mengikisnya,
menjadikan setiap masa dahulu,
Seperti potongan-potongan kenangan yang hanya menyediakan gambar,
Tentang mu…

Banyak tawa yang selalu kau ukir,
Kenakalan-kenalakan kecil,
Canda yang lekat dengan mu,
Itulah dirimu,
Setidaknya diingatanku yang tak bagus.
Engkau teman yang ceria…
Andi Richard…

dan aku teringat lagi gambaran tentang mu,
di kelas, terkadang meminjam buku catatan ku,
di lapangan, saat kau dan 4 kawan mu itu bermain,
saat upacara bendera,
di ruang guru, 
bahkan suaramu...
yang kini hanya bisa kami tangisi.

Engkau telah pergi mendahului kami,
Pergi dari dunia yang fana ini,
Dan kau membekaskan cerita diingatan kami,
Bahwa ingatan seorang kawan pada saudaranya,
Adalah tentang seperti apa kebiasaan kita pada kawan kita.

Hari ini mungkin kau mendengar Andi Richard telah pergi,
Esok hari bisa jadi,
Kau akan mendengar bahwa izzah amanatun haq juga telah pergi mendahului,
Ke tempat kembalinya yang pasti.

Lalu aku ingin sekali bertanya pada kalian,
Apa yang tersisa dalam benak kalian tentang diriku?
 
3-7-2015
*bagaimana rasanya sendiri di bawah gundukan tanah itu?
 
foto: Andi Richard, teman sekelasku selama 3 tahun di SMAN 22 Makassar

Comments

Popular posts from this blog

3 Pertanyaan Besar dalam Hidup (Uqdatul Kubra)

Ada 3 Pertanyaan Besar yang harus bisa dijawab oleh orang yang hidup. 3 pertanyaan ini seperti simpul besar, yang apabila ini bisa dijawab dengan benar maka ia akan bisa menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan lain dan menyelesaikan masalah-masalah hidupnya dengan benar. jawaban yang benar ini akan membuat kita merasakan ketenangan hati, terpuaskan akal kita dan sesuai dengan fitrah manusia. pertanyaannya yaitu: DARI MANA MANUSIA BERASAL?, UNTUK APA MANUSIA HIDUP DI DUNIA INI ?dan AKAN KEMANA KITA SETELAH KEHIDUPAN INI? coba deh kalian jawab. apa jawaban kalian. tulisan ini akan saya lanjutkan dengan jawaban yg insya Allah memuaskan.

Kisah Sedih Dari Khalifah Terakhir Umat Islam

“Anakku, ayah melihat orang-orang di sini sudah mulai memuji paras cantikmu. Maka mulai hari ini ayah ingin kamu sudah mengenakan hijab dengan   sempurna, karena kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang.” Untaian kata penuh kasih sayang itu dituturkan dengan suara lembut oleh Sultan Abdul Hamid II kepada anaknya Aishah saat mereka tengah melintas di depan Masjid Hamidiye Yildiz yang terletak tidak jauh dari pintu masuk istananya. Di depan masjid ini, terlalu banyak kisah yang memilukan hati menimpa diri dan keluarga Sultan. Percobaan pembunuhan dengan meletakkan bom di dalam kereta kuda Sultan. Pengeboman itu terjadi berselang beberapa saat usai shalat Jumat. Allah masih menghendaki Sultan Abdul Hamid tetap bertakhta memimpin umat. Upaya menghabisi nyawa orang nomor satu di dunia Islam itu kandas. Di depan istana ini, Sultan sering melaksanakan shalat dan keluar menyapa rakyat yang selalu dekat di hatinya. Di situ juga, Sultan sesekali menunggang kuda ditemani anakn...

Boleh jadi

. Boleh jadi, diantara manusia2 yg kau kenal, Ada yg diam2 mendoakan Ada yg tiap malamnya bermunajat kepada RabbNya, Dan menyebut satu persatu nama kalian, Dan Allah berkenan mengijabah do'anya . Boleh jadi, diantara banyak manusia yg kau kenal, Ada yg masih menyisakan dendam Memendam salahmu padanya, Bersikap biasa saja, padahal hatinya masih menyimpan luka, Lalu diam2 mendoakan agar Allah membalas sakitnya dengan sesakit-sakitnya . Boleh jadi, diantara sekian banyak manusia yg kau kenal, Ada yg tersentuh dengan niat ikhlasmu, Menolongnya, meski sangat sederhana Mungkin hanya dari senyum tulusmu tiap berjumpa, Atau segelas air minum yg kau tawarkan, Atau selembaran rupiah yg kau pinjamkan, Lalu ia dengan tulus ikhlas bersyukur dan berterimakasih, Mengucapkan jazakillah khairan "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan" . Tak ada yg tahu . Kita hanya berupaya memunculkan sebab Kita hanya berupaya melakukan setiap kebaikan2 dengan mengharap ridhaNya Lalu biarkan...