Mata Wini sudah terasa berat, kepalanya sudah tergolek pasrah di atas bantal, tinggal menghitung detik ia akan tertidur pulas andai saja smartphonenya tidak berbunyi nyaring. “Setengah Mati Merindu”nya Judika memenuhi ruang kamar kosnya yang sempit. Sekiranya tetangga kamarnya tidak protes, pasti ia akan menikmati lagu kesayangannya itu sedikit lebih lama. “Ya, halo?” tanyanya dengan suara seperti setengah sadar. “Dengan Meilani?” suara nge-bass. Wini mengerutkan dahi. Ia agak jengkel, tidurnya terganggu dengan sebuah telepon salah sambung. “Maaf salah sambung” balasnya dengan suara ketus. Hampir saja ia mematikan telepon tetapi suara di seberang keburu menyahut. “Ini bukan dengan Meilani, ya? Berarti Yoga salah kasih nomer nih.” “Yoga? Siapa ? Maaf gak kenal juga. Sudah ya.” Wini pun menutup teleponnya. Ia kembali memejamkan mata. “Halo, kalo bukan dengan Meilani lalu kamu siapa?” suara lelaki...
inilah kebebasan yang hakiki, tak terkekang nafsu dan keinginan, hanya tulus penghambaan