Skip to main content

Posts

Showing posts with the label CerPen

Mahkota lima Ribu Rupiah

            Mata Wini sudah terasa berat, kepalanya sudah tergolek pasrah di atas bantal, tinggal menghitung detik ia akan tertidur pulas andai saja smartphonenya tidak berbunyi nyaring. “Setengah Mati Merindu”nya Judika memenuhi ruang kamar kosnya yang sempit. Sekiranya tetangga kamarnya tidak protes, pasti ia akan menikmati lagu kesayangannya itu sedikit lebih lama. “Ya, halo?” tanyanya dengan suara seperti setengah sadar. “Dengan Meilani?” suara nge-bass. Wini mengerutkan dahi. Ia agak jengkel, tidurnya terganggu dengan sebuah telepon salah sambung. “Maaf salah sambung” balasnya dengan suara ketus. Hampir saja ia mematikan telepon tetapi suara di seberang keburu menyahut. “Ini bukan dengan Meilani, ya? Berarti Yoga salah kasih nomer nih.” “Yoga? Siapa ? Maaf gak kenal juga. Sudah ya.” Wini pun menutup teleponnya.  Ia kembali memejamkan mata. “Halo, kalo bukan dengan Meilani lalu kamu siapa?” suara lelaki...

Hana

“kau tahu, Hana. Aku akan tetap mencintaimu walaupun dunia menghujatku. Karena yang ku tahu, cinta tak pernah salah. Ia datang kepada siapa saja tanpa diminta.”, ucapku sambil menatap hangat wajah Hana sore itu. Kami memandangi senja yang merona dibatas cakrawala. Ada pendar jingga merona membayang di danau Saiko. Pemandangan yang amat disukai Hana. Dan aku selalu menyukai apa yang disukai Hana.  Aku melirik wajah Hana yang terkena pantulan senja. Dan berbisik lirih ditelinganya, mengatakan kepadanya bahwa ku fikir aku takkan pernah jatuh cinta dan merasa damai seperti ini, ” Koi ni ochiru nante koto wa arienai to omotte ta. Konna kimochi ni natta koto wa nai .” Dan Hana tersenyum. Senyum yang semempesona jingga. Senyum yang membuat bibirku dengan mudahnya berucap, “ kekkon shiyo , ayo kita menikah”. * esok paginya aku terbangun mendengar suara pintu di gedor dengan sangat keras. Dengan hati-hati aku beranjak dari ranjang pengantinku karena tak ingin membangunkan Hana. “...

Nura

Nura adalah salah satu jenis manusia yang tak banyak berkata. setiap dikeramaian Nura tak diketahui hadirnya, ia tak suka menonjolkan diri, ia tak dicari-cari. ia wanita yang biasa, terlalu biasa. ia tak spesial. disegala kesempatan Nura menempatkan dirinya sebagai 'pemain pendukung', ya, seperti pemain pendukung dalam sebuah film, keberadaannya tak terlalu penting. "Assalamu'alaykum, sendiri disini? menunggu jemputan lagi?", Nura menyapaku setelah selesai dari sebuah majelis. "wa'alaykumsalam, iya nih. kok tahu?", tanyaku balik. menatap senyumnya yang sederhana. "iya, kan aku biasa lihat Rina menunggu disini." "kalu Nura sendiri kenapa tidak langsung pulang? tunggu jemputan juga?" "tidak juga, aku nunggu jemputannya Rina menjemput Rina." aku terkekeh. "mau menemani aku maksudnya?, oalah..." percakapan pun berlanjut, tanpa terasa. ringan saja, tetapi aku menikmati bahasa sederhana dan perhatian-perhatia...

Aku yang terbebas

" Mataku termasuk salah satu mata yang basah pada hari itu. bagaimana tidak, aku seperti menyaksikan langsung bisyarah Rasulullah terbukti di depan mataku. berpuluh-puluh orang seperti tak ada habis-habisnya memadati lapangan karebosi. berpuluh ribu orang hadir dan menyambut seruan penegakan khilafah "-aku, Mei 2015.  *    Beberapa bulan yang lalu, aku masih seperti mahasiswi seni kebanyakan. Bahkan penampilanku sedikit maco jika dibandingkan dengan perempuan lainnya. kemeja lengan pendek, celana jins belel, sepatu kets dan rambut yang selalu tergulung ke atas, begitulah pakaian keseharianku ke kampus. aku bahkan meminati kegiatan mendaki gunung dan menjelajah dengan kawan-kawanku yang kebanyakan adalah laki-laki.    Aku sungguh orang yang bebas dan menyukai petualangan. bagiku, hal-hal yang seperti kerudung sungguh mengekang kebebasan. seringkali aku memandang sebelah mata para mahasiswi yang mengenakan kerudung lebar selutut atau pakai gamis macam emak-ema...