Skip to main content

Sederhana



Kita kumpulan dua tiga lebih manusia
Dari jenis keturunan yang sama,
Memayung dalam satu silsilah bernama keluarga,
Dalam rasa yang sama.

Kita adalah rumah bagi satu dan yang lainnya,
Dengan atap yang sering bocor yang bising saat angin ribut melanda,
Dengan lumut di sekitar dindingnya,
Karat di pagar besinya,
Tetapi selalu saja ke sana tempat kita pulang.

Kita adalah manusia-manusia yang saling tahu,
Tahu benar burukku apa,
Tahu benar baikmu tak seberapa,
Tetapi kita memang menerima apa adanya,
Kurang dan alphanya kita.

Kita adalah telaga bagi satu dan lainnya,
Tempat air mata biasa bermuara,
Tempat segala do’a mengena,
Tempatnya pengorbanan ada,
Pengorbanan abah…
Pengorbanan umi…
Pengorbanan kita,
Untuk bisa mengukir senyum dan meringankan beban sesama.

Kau tahu,
Kita pun akan menambah bilangan keluarga,
Aku kan jadi ibu,
Ibu kan jadi nenek,
Ayah kan jadi kakek,
Tetapi kita takkan lupa,
Bahwa kita bersama untuk menyulam luka,
Dan merajut bahagia,
Meski dengan teramat sederhana.

*ketika membuka-buka file di folder kompi, ada satu puisi yang ternyata pernah saya tulis untuk saya kirimkan dalam event lomba yang bertema keluarga.
seperti biasa juga, puisi ini juga tidak lolos seleksi. tapi tak apa, saya punya ruang sendiri untuk menuangkan buah pikiran. in here.


Comments

Popular posts from this blog

3 Pertanyaan Besar dalam Hidup (Uqdatul Kubra)

Ada 3 Pertanyaan Besar yang harus bisa dijawab oleh orang yang hidup. 3 pertanyaan ini seperti simpul besar, yang apabila ini bisa dijawab dengan benar maka ia akan bisa menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan lain dan menyelesaikan masalah-masalah hidupnya dengan benar. jawaban yang benar ini akan membuat kita merasakan ketenangan hati, terpuaskan akal kita dan sesuai dengan fitrah manusia. pertanyaannya yaitu: DARI MANA MANUSIA BERASAL?, UNTUK APA MANUSIA HIDUP DI DUNIA INI ?dan AKAN KEMANA KITA SETELAH KEHIDUPAN INI? coba deh kalian jawab. apa jawaban kalian. tulisan ini akan saya lanjutkan dengan jawaban yg insya Allah memuaskan.

Boleh jadi

. Boleh jadi, diantara manusia2 yg kau kenal, Ada yg diam2 mendoakan Ada yg tiap malamnya bermunajat kepada RabbNya, Dan menyebut satu persatu nama kalian, Dan Allah berkenan mengijabah do'anya . Boleh jadi, diantara banyak manusia yg kau kenal, Ada yg masih menyisakan dendam Memendam salahmu padanya, Bersikap biasa saja, padahal hatinya masih menyimpan luka, Lalu diam2 mendoakan agar Allah membalas sakitnya dengan sesakit-sakitnya . Boleh jadi, diantara sekian banyak manusia yg kau kenal, Ada yg tersentuh dengan niat ikhlasmu, Menolongnya, meski sangat sederhana Mungkin hanya dari senyum tulusmu tiap berjumpa, Atau segelas air minum yg kau tawarkan, Atau selembaran rupiah yg kau pinjamkan, Lalu ia dengan tulus ikhlas bersyukur dan berterimakasih, Mengucapkan jazakillah khairan "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan" . Tak ada yg tahu . Kita hanya berupaya memunculkan sebab Kita hanya berupaya melakukan setiap kebaikan2 dengan mengharap ridhaNya Lalu biarkan...

Kisah Sedih Dari Khalifah Terakhir Umat Islam

“Anakku, ayah melihat orang-orang di sini sudah mulai memuji paras cantikmu. Maka mulai hari ini ayah ingin kamu sudah mengenakan hijab dengan   sempurna, karena kamu sudah menjadi wanita dewasa sekarang.” Untaian kata penuh kasih sayang itu dituturkan dengan suara lembut oleh Sultan Abdul Hamid II kepada anaknya Aishah saat mereka tengah melintas di depan Masjid Hamidiye Yildiz yang terletak tidak jauh dari pintu masuk istananya. Di depan masjid ini, terlalu banyak kisah yang memilukan hati menimpa diri dan keluarga Sultan. Percobaan pembunuhan dengan meletakkan bom di dalam kereta kuda Sultan. Pengeboman itu terjadi berselang beberapa saat usai shalat Jumat. Allah masih menghendaki Sultan Abdul Hamid tetap bertakhta memimpin umat. Upaya menghabisi nyawa orang nomor satu di dunia Islam itu kandas. Di depan istana ini, Sultan sering melaksanakan shalat dan keluar menyapa rakyat yang selalu dekat di hatinya. Di situ juga, Sultan sesekali menunggang kuda ditemani anakn...