Skip to main content

Posts

monolog ibu dan anaknya dalam sistem sekuler

(monolog ini dibawakan oleh dua orang yakni bunda dan nanda) bunda   : Andai waktu dapat ku putar, Tak aka nada kelam yang menyelimuti Ketakutan yang senantiasa mencengkeram Dan kegelapan yang terbentang Andai waktu dapat ku putar Tak akan kupilih jalan yang salah ini Jalan yang memaksaku melakukan banyak kejahatan berunut Jalan yang memaksaku menjadi seorang monster Demi kesenangan sesaat Kuredamkan diriku dalam kubangan dosa Maksiat menjadi hal yang lumrah Cinta semu yang berbalut nafsu kulakoni jua Kini aku harus menanggung buah Dari benih yang kutanam Hamil diluar nikah bukanlah harapanku Namun ini telah menjadi pilihanku Mimpiku masih panjang Cita-citaku masih tinggi Aku belum siap dengan segala konsekuensi ini Nanda   : Bunda, andai kau tau betapa bahagianya diriku Aku telah menjadi pemenang diantara jutaan saingan Yang berharap dapat berkembang di rahimmu juga Tapi Allah telah memenangkanku Menempati rahimmu...

Buncahan Rindu

Dan adalah gelisah yang merantai Mengunci dalam ribuan bisik Mengurung dalam waktu yang terasa bergegas Ah, apa ini? Ada semacam rasa di sanubari Yang mendorongku tegar, padahal sedang gusar Yang membuatku tenang, meski air mata menggenang Yang menghantarku bertemu jalan, padahal pelik seakan gunung yang menghadang Rasa yang kian menyala, kala kubersimpuh Kian terasa, kala kubersujud Waktu berputar dan kernyit dahi kian dalam Seberapa lama lagi akan terinsafi Seberapa lama lagi untuk menyadari Ah, duhai diri, sadarkah kau itulah panggilan iman Panggilan keyakinan Usah cari alasan lagi, duhai diri Kau rindu dekapan RabbMu Kau ingin tersungkur mengadu Kau mau meratap, menangis, meminta ampunan TuhanMu Ah, astaghfirullah, astaghfirullah Dan Muhammad Rasul Allah, Seakan tersuruk, jauh namanya tak kau sebut Terlupakan, dikalahkan sosok sosok manusia yang lebih kau puja Bak dewa Lalu kau anggap apa tumitnya yang berdarah kala dilem...

Islam the way of life

Mata ini memandang nanar ke depan, Terkadang perih menyergap ketika melihat kanak-kanak kecil, Menghabiskan waktu di jalan untuk menjajakan dagangan, Ibu yang bekerja, ayah yang bekerja, anak-anak yang bekerja bahkan nenek-nenek tua yang bekerja, Semua karena hidup di sistem kapitalis, Penuh dengan biaya mahal. Orang miskin dilarang sakit, orang miskin dilarang sekolah, orang miskin tak punya hak tuk didengar, Dada ini sering sesak rasanya, Melihat masalah yang melanda seakan tidak ada habisnya, Tawuran, perceraian, drama politik, korupsi, krisis ekonomi, krisis moral dan jati diri, Hampir-hampir tak ada lagi baiknya, Hilang sudah kebanggaan umat ini sebagai umat yang terbaik, Umat islam tak lagi punya wibawa, umat islam kini terhina. Oh... sungguh rupanya islam yang dulu berjaya kini tak lagi berdaya, Terjadi karena jauhnya islam dari kaum muslimin. Al-Qur’an berdebu dilemari, atau hanya sebagai ‘penyumpah’ para pemimpin negeri, As-sunnah dihap...