Skip to main content

Posts

Orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah

Semoga Allah merahmati Anas bin Nadhir. Ia adalah seorang syahid Perang Uhud yang telah memenuhi janjinya kepada Tuhannya. Dia sangat menyesal tidak hadir di Perang Badar, karenanya dia merasa kehilangan banyak kebaikan dan pahala yang besar. Anas tidak turut serta dalam Perang Badar bukan karena takut atau dia seorang yang munafik. Dia mengira tidak akan terjadi perang, dia menyangka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat hanya untuk mencegat kafilah dagang orang-orang Quraisy, dan Rasulullah tidak mewajibkan para sahabatnya untuk berangkat. Anas telah berjanji kepada Allah, “Jika Allah memberiku memberiku kesempatan hadir di medan perang melawan musuh-musuh-Nya, niscaya Dia pasti melihat apa yang aku lakukan.” Di Perang Uhud, kaum musyrikin lari tunggang langgang di awal peperangan di saat kaum muslimin bersikap benar. Allah mewujudkan janji-Nya kepada mereka, akan tetapi manakala kaum muslimin menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam...

Wahai Guru, Ajari Kami

Wahai guru, wahai pendidik generasi, Apakah arti menuntut ilmu? Apakah ilmu itu adalah soal nilai yang memenuhi KKM? Ataukah tentang tugas-tugas yang penuh formalitas? Atau ilmu adalah tentang pelajaran yang kami peroleh di kelas-kelas Wahai guru, wahai panutan generasi, Akankah setelah pelajaran matematika, kimia dan fisika, Kami bisa menjadi sebenar-benar manusia? Yang menghamba sepenuhnya kepada sang pencipta Menjadi Hamba Allah yang beriman dan bertakwa Wahai guru, Ajari kami bagaimana menghadapi kehidupan di sistem kapitalis-sekuler seperti sekarang Kehidupan dimana pergaulan bebas begitu mudah menjadi teman setia kami, Anak-anak perempuan dengan mudahnya menggadaikan kehormatan, Anak-anak laki-lakinya begitu akrabnya dengan kenakalan, Narkoba, seks bebas, tawuran, pacaran, minuman keras Tidak ada jaminan kami terhindar dari belenggu kemaksiatan Wahai pahlawan tanpa tanda jasa, Ajari kami bagaimana tak terikut arus kapitalis-sekuler s...

Perjalanan

Setiap perjalanan pasti ada akhirnya. Ujung jalan telah menunggu, dengan pasti. Hanya saja, kita tidak tahu kapan akan berhenti. Adalah gerak dan waktu, yang akan menjawab segala tanya. Kita hanya terus berusaha melangkah, senantiasa. Seseorang tidak akan di tanya, kapan ia akan sampai di ujung jalan. Namun, ia akan di tanya: "sudah seberapa jauh kaki melangkah untuk sampai di ujung jalan sana?" Seperti itulah jalan para pejuang. Pejuang tidak tahu sampai kapan ia harus senantiasa berjuang. Yang ia tahu hanya berjuang, berjuang dan berjuang. Kerikil, duri dan bebatuan tak jarang menyertai, baginya ini bukan penghalang. Sampai ia berhasil mencapai ujung jalan, ataukah Sang Pemilik Waktu berkata: "ini saatnya kau pulang". Lalu, muncul tanya dalam gelisah. Siapa gerangan sang pejuang yang selalu tabah dalam perjalanan menuju akhir kisah? Siapa? Jawabnya adalah mereka. Mereka yang selalu menjunjung tinggi kalimah-Nya. Berjuang untuk meninggikan syar...

Allah SWT, Kemudian Surga!

Saat menengok sejarah kehidupan para Sahabat, kita akan mendapati bahwa mereka adalah orang-orang yang begitu antusias memenuhi serua n menjadi penolong agama Allah. Tekad mereka menjadi pejuang Islam dan pembela akidah telah nyata tercatat dalam tinta emas sejarah kehidupan ini. Abdurrahman Ra’fat al-Basya pernah mengumpulkan kisah-kisah para Sahabat tadi dalam sebuah buku yang ia beri judul “65 Manusia Langit”. Ya, manusia langit. Tidak berlebihan jika sematan manusia langit ini diberikan kepada mereka sebab kontribusi para sahabat tadi dalam menolong agama Allah begitu luar biasa. Tengoklah kisah Sahabat bernama Al-Bara’ bin Malik al-Anshary. Mengenai beliau, Umar bin al-Khaththab ra. bahkan pernah berkata, “Janganlah kalian tunjuk Al-Bara’ menjadi Amir dalam pasukan kaum muslim karena dikhawatirkan ia dapat mencelakakan tentaranya karena ingin terus maju.” Apa yang disebutkan Umar memang bukan tanpa alasan. Pada peperangan Yamamah, perang antara kaum muslim dan pasuk...

Ruginya Pacaran

“Gua bosan ama lu, ma”, “apa?” “lu pikir kalian bakal awet kayak emak dan bokap lu? Lu mikir dong. Mereka awet karena ikatan pernikahan. Bukan ikatan pacaran. Akhir dari pernikahan ya cerai atau maut yang memisahkan. Akhir dari pacaran, ya putus. Mau ngarepin pacaran awet? ya lu kayak mimpi di siang bolong.” “jadi lu bosan jadi teman curhat gue? Jahat lu, ce” “abisnya ending kisah lu gini mulu. Diputusin lagi. Gua ngitungin elu udah 7 kali pacaran, gonta-ganti cowok. Ending-endingnya elu kan yang sakit hati. Karena elu cewek, dan dalam hubungan pacaran, pihak cewek pasti selalu yang dirugikan. Gue sebagai teman curhat udah tau apa aja yang elu kasih ke cowok-cowok lu, seberapa besar rugi lu karena pada akhirnya cowok-cowok itu pergi menghilang entah kemana. Mereka mah gak rugi, tapi elu? Elu tak ubahnya barang yang dimanfaatin ketika doyan, kalo udah bosan ya dibuang.” “sadis banget sih kata-kata lu. Sebagai cewek elu harusnya care sama gua. Kok malah ngehujat gua.” “g...