Seperti menonton adegan kejam, seperti membaca film tragis menakutkan, tetapi kisah mereka nyata. Kisah para pengungsi Myanmar yang memilih kabur daripada harus tersiksa di negeri mereka, tanah kelahiran mereka. Berikut secuil kisah miris yang saya copy dari jawapos.com Dor... Dor... Kapten Kapal Menembaki Penumpang yang Protes ( Aqwam F. Hanifan, Langsa, Aceh ) Hidup seolah hanya menunda kematian bagi para pengungsi Myanmar dan Bangladesh. Mereka tidak tahu harus ke mana lagi untuk bertahan. Maka, jadilah mereka manusia perahu yang terombang-ambing gelombang ketidakpastian. SAYIDUL Islam, 17, dan Muhammad Rafiq, 21, adalah remaja etnis Rohingya yang sebelumnya hidup di kamp pengungsi UNHCR di Kutupalong, Bangladesh. Hidup jadi orang miskin yang terasing di negeri orang lain amat menyiksa. Karena itu, saat agen perdagangan manusia, Nurul Haq, datang menggoda untuk menjadi imigran gelap ke Malaysia, dengan sigap mereka menerima tawaran ters...
inilah kebebasan yang hakiki, tak terkekang nafsu dan keinginan, hanya tulus penghambaan